(Analisis Framing : Kompas, Republika, dan Hidayatullah online)
Oleh : Dodo Suwanda
I. Latar Belakang
Demokrasi, kemerdekaan menyatakan pendapat, dan hukum adalah rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Berbicara mengenai apa itu demokrasi, ada atau tidak demokrasi dan bagaimana “barometer” demokrasi suatu negara, salah satu indikatornya adalah bagaimana pelaksanaan hak pokok yang dimiliki oleh setiap rakyat, yaitu kemerdekaan untuk menyatakan pendapat.
Keran kebebasan pers yang dibuka lebar-lebar sejak era reformasi dimaknai tidak untuk kepentingan kalangan jurnalis semata. Namun kebebasan dan kemerdekaan pers tersebut demi kepentingan publik untuk mendapatkan berbagai informasi yang transparan, akurat, dan objektif.
Dalam perkembangannya, pemberitaan yang dimuat di media cetak (pers) sering kali ditemukan berita-berita yang bias dalam memandang sebuah peristiwa sehingga terkesan adanya unsur-unsur yang tersembunyi (hiden agenda).
Lebih dari itu, penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas. Namun, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/latar belakang seorang penulis. Seorang penulis pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan.
Insiden di Monas yang dimuat diberbagai media cetak, media elektronik dan media online sudah membangun sebuah opini publik adalah contoh dari penyampaian sebuah berita yang kompleks yang terselip unsur subjetivitas dan ideologis dari seorang penulis.
Bentrokan yang terjadi pada hari mingggu tanggal 1 Juni 2008, antara massa Fron Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) adalah sebuah peristiwa yang dimuat oleh media cetak, elekktronik, dan media online. Banyak sekali media cetak memberitakan peristiwa tersebut hanya menonjolkan kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap massa AKKBB sehingga berkesan bahwa FPI adalah organisasi brutal dan preman berjubah putih, tetapi bangaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi, apa yang melatar belakangi peristiwa itu terjadi. Sangat sedikit media yang memberitakan itu.
Oleh karena diperlukan sebuah analisis secara objektif terhadap isi berita sehingga dapat mengungkap realitas yang sebenarnya. Untuk itulah penulis menganalisa isi berita dari berbagai surat kabar untuk menemukan kunci-kunci tema dalam sebuah teks dan menunjukkan bahwa latar belakang budaya yang membentuk pemahaman kita terhadap insiden Monas dengan analisis Framing. Menurut Panuju (2003:1), frame analysis adalah analisis untuk membongkar ideologi di balik penulisan informasi.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, untuk melihat fakta dan melihat sorotan media dalam pemberitaan insiden Monas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Mengungkap Fakta dibalik Insiden Monas, (Analisis Framing : Kompas, Republika, dan Hidayatullah online)”.






boleh minta tulisan dan hasil ulasan fakta monas ini ga?
Oleh: dimas on 5 Juli 2009
at 2:27 am
maap boleh minta tulisan dan hasil ulasan fakta monas ini ga?
Oleh: dimas on 5 Juli 2009
at 2:27 am