Oleh: dossuwanda | 19 Maret 2008

Pemimpin yang didambakan

Mungkin kita sepakat, bahwa kita berkeinginan mempunyai pemimpin yang menjadi dambaan, pemimpin yang dapat membawa kita dalam sebuah kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan.
Betapa bangganya jika kita juga merupakan bagian dari yang didambakan itu, menjadi seseorang yang didambakan orang lain karena kepemimpinannya, selalu dinanti kehadirannya, selalu didengar apa yang diucapkannya, selalu diturut apa perintahnya, karena semua itu diyakini dan dirasakan akan membawa kepada sebuah perubahan, sebuah kemajuan buat semua orang, tidak ada lagi pembeda dalam menetukan kemajuan, tidak ada lagi pemisah dalam meningkatkan kesejahteraan, semua merasa diperhatikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Berbicara hal tersebut, saya teringat sewaktu duduk di bangku SMP tahun 1983-1986, namanya SMP Taman Siswa di Bandung atau Taman Dewasa.
Di Taman siswa selain mendapat pelajaran umum juga diberikan pelajaran tentang ketaman siswaan, ada satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang dari pelajaran ketaman siswaan itu, yaitu tentang ajaran Ki hajar Dewantara;: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut wuri Handayani.

Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya; di depan memberi contoh dan teladan.
Ing Madyo Mangun Karso, artinya; ditengah membangun karsa, gagasa, ide, dan karya
Tut wuri Handayani, artinya; di belakang memberi dorongan/ motivasi.

Dari pengertian ajaran ki Hajar Dewantara mempunyai nilai dan gaya kepemimpinan, yaitu bahwa seorang pemimpin yang didambakan seyogyanya selalu berusaha menempatkan posisinya dalam 3 konteks yang berbeda:

- Berani tampil di depan dengan senantiasa memberikan contoh dan keteladan.
- Berada ditengah anggotanya dengan membangun karya, karsa, dan gagasan, dan
- Jika dibelakang, selalu memberikan petunjuk, selalu mendorong, dan memotivasi.
Tentunya ajaran ki Hajar Dewantara itu dapat dilaksanakan oleh semua pemimpin jika dalam

dirinya selalu berusaha memiliki sifat kepemimpinan ; Siddiq (benar), yaitu berkata dan bertindak benar, Amanah (dipercaya), selalu menjaga kepercayaan, Tabliq (menyampaikan apa adanya), dan Fathonah (pandai), pemimpin itu harus pandai, cerdas. Juga memiliki sikap kepemimpinan yang Tawadhlu (rendah hati)

Seandainya pemimpin memiliki sifat dan sikap seperti itu, seandainya pemimpin itu dapat menempatkan posisinya dalam 3 konteks yang berbeda ; memberi teladan, karsa dan karya, dan selalu memberi motivasi, betapa indahnya keluarga ini, betapa indahnya masyarakat ini, dan betapa indahnya negara ini mungkin semua dapat berjalan dengan dinamika kearah tujuan yang jelas, saling bahu membahu memberikan sesuatu karya yang berharga dan bermanfaat, tidak ada lagi batasan untuk mencapai keadilan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori